Posted by: mypro6ress | Juni 27, 2008

sepucuk surat

Suatu kali ketika aku mampir di sebuah warung di suatu kota yang tenang, kutemukan secarik surat yang tertinggal di meja warung. Surat itu belum lusuh benar. Kupegangi kertas surat itu, dan kubaca perlahan-lahan, kucermati dan kurasakan emosi si pembuat surat tersebut…

“ Buat bapak ibu pemerintah..

silahkan naikkan tarif listrik maupun BBM

Saya tidak peduli…

Saya tetap akan bayar.

Kenaikan BBM

yang memicu naiknya semua biaya-biaya hidup Saya

tidak menakutkan Saya

Saya masih bisa bekerja

Saya masih tetap mengumpulkan uang

untuk makan Saya

untuk makan anak istri Saya

untuk bayar sekolah anak Saya

untuk nyumbang ke panti asuhan..

Buat bapak ibu pemerintah..

siksalah Saya,

susahkan Saya,

Saya tidak takut.

Saya sudah terbiasa hidup susah sejak lahir.

Kakek Saya sering bercerita,

dengan bangga

tentang hidup susah di jaman penjajahan

dengan bangga

hidup sebagai pejuang yang serba menderita

dan dengan tertawa

bercerita indahnya hidup menderita itu..

Buat bapak ibu pemerintah..

Saya titip anak Saya

ajari dia

merasakan susahnya hidup di negeri ini

bantu dia

belajar berjuang hidup dengan penuh benci dan dendam..

hingga tak pernah bisa berpikir

mau jadi apa jika sudah besar nanti.

beritahu dia

bahwa kita hidup di negeri pejuang

yang selalu berjuang untuk hidup

seperti buyutnya

seperti kakek neneknya

dan seperti bapak ibunya.

Bapak ibu di pemerintahan..

teruskan keinginan-keinginan sampeyan

jangan dengarkan para pengusaha yang takut bangkrut

karena mereka masih kaya raya

jangan hiraukan mereka yang bicara atas nama rakyat

karena mereka mungkin juga orang kaya

atau pernah kaya

dan berharap untuk tetap mencari jalan untuk bisa kaya

dan membuat kaya dirinya sendiri

mereka belum tahu rasanya menderita

mereka tidak akan pernah tahu nikmatnya menderita..

Bapak ibu..

Saya mohon permisi

karena penumpang sudah pada antri

Saya mau narik becak lagi..

Posted by: mypro6ress | Juni 26, 2008

persepsi Anda salah!

Jika Anda masih merasa bahwa pendapat Andalah yang paling benar, berarti Anda perlu belajar tentang perbedaan persepsi. Ini penjelasannya:

1. Kadang mata kita masih mengecoh kita, belum bisa kita jadikan dasar kebenaran.

contoh:

Yakinlah bahwa garis-garis mendatar tersebut lurus datar dan sejajar. Buktikan dengan penggaris untuk lebih meyakininya.

2. Dalam setiap kasus yang kita lihat, akan ada pendapat lain yang sama benarnya dengan pendapat kita.

contoh:

Yakinlah bahwa gambar itu bisa dilihat sebagai gambar kelinci dan bebek.

3. Dari sudut pandang yang berbeda, akan muncul pendapat yang berbeda .

contoh:

Yakinlah bahwa gambar yang diatas tersebut jika dibalik akan menjadi gambar di bawah.

Bayangkan jika gambar tersebut diletakkan ditengah antara dua orang yang berhadapan (seperti papan catur di antara 2 orang pemain catur) maka apa yang mereka lihat dari gambar tersebut jelas berbeda. Seekor burung dan seorang nelayan di suatu pulau.

4. Cobalah untuk melihat dari sudut pandang yang berbeda. Karena ada banyak pendapat benar terhadap suatu peristiwa.

contoh:

Yakinlah bahwa itu adalah gambar seorang pria, atau seorang wanita muda atau juga seorang wanita tua.

Selamat! Anda telah berani mengubah persepsi Anda. Anda bisa gunakan untuk memahami berbagai kasus atau peristiwa.

Pesan Saya: Nikmatilah perbedaan persepsi yang Anda terima.

Atau, coba pikirkanlah !

Posted by: mypro6ress | Juni 26, 2008

Do’a ku

Ketika kumohon kepada ALLAH kekuatan,

ALLAH memberiku kesulitan agar aku menjadi kuat.

Ketika kumohon kepada ALLAH kebijaksanaan,

ALLAH memberiku masalah untuk kupecahkan.

Ketika kumohon kepada ALLAH kesejahteraan,

ALLAH memberiku akal untuk berpikir.

Ketika kumohon kepada ALLAH keberanian,

ALLAH memberiku kondisi bahaya untuk kuatasi.

Ketika kumohon kepada ALLAH sebuah cinta,

ALLAH memberiku orang-orang bermasalah untuk kutolong.

Ketika kumohon kepada ALLAH bantuan,

ALLAH memberiku kesempatan.

Aku tak pernah menerima apa yang kupinta,

tapi aku menerima segala yang kubutuhkan.

Do’a ku terjawab sudah.

Kategori