Suatu kali ketika aku mampir di sebuah warung di suatu kota yang tenang, kutemukan secarik surat yang tertinggal di meja warung. Surat itu belum lusuh benar. Kupegangi kertas surat itu, dan kubaca perlahan-lahan, kucermati dan kurasakan emosi si pembuat surat tersebut…
“ Buat bapak ibu pemerintah..
silahkan naikkan tarif listrik maupun BBM
Saya tidak peduli…
Saya tetap akan bayar.
Kenaikan BBM
yang memicu naiknya semua biaya-biaya hidup Saya
tidak menakutkan Saya
Saya masih bisa bekerja
Saya masih tetap mengumpulkan uang
untuk makan Saya
untuk makan anak istri Saya
untuk bayar sekolah anak Saya
untuk nyumbang ke panti asuhan..
Buat bapak ibu pemerintah..
siksalah Saya,
susahkan Saya,
Saya tidak takut.
Saya sudah terbiasa hidup susah sejak lahir.
Kakek Saya sering bercerita,
dengan bangga
tentang hidup susah di jaman penjajahan
dengan bangga
hidup sebagai pejuang yang serba menderita
dan dengan tertawa
bercerita indahnya hidup menderita itu..
Buat bapak ibu pemerintah..
Saya titip anak Saya
ajari dia
merasakan susahnya hidup di negeri ini
bantu dia
belajar berjuang hidup dengan penuh benci dan dendam..
hingga tak pernah bisa berpikir
mau jadi apa jika sudah besar nanti.
beritahu dia
bahwa kita hidup di negeri pejuang
yang selalu berjuang untuk hidup
seperti buyutnya
seperti kakek neneknya
dan seperti bapak ibunya.
Bapak ibu di pemerintahan..
teruskan keinginan-keinginan sampeyan
jangan dengarkan para pengusaha yang takut bangkrut
karena mereka masih kaya raya
jangan hiraukan mereka yang bicara atas nama rakyat
karena mereka mungkin juga orang kaya
atau pernah kaya
dan berharap untuk tetap mencari jalan untuk bisa kaya
dan membuat kaya dirinya sendiri
mereka belum tahu rasanya menderita
mereka tidak akan pernah tahu nikmatnya menderita..
Bapak ibu..
Saya mohon permisi
karena penumpang sudah pada antri
Saya mau narik becak lagi..





